Komisariat Sebagai Lumbung Perkaderan

Oleh: Dimas Agustiawan 

Penulis adalah Wasekum PTKP HMI Komisariat Insan Cita 2020-2021

JEJAKMEDIAINSANCITA - Sesungguhnya perjuangan yang disertai usaha yang teratur lagi berencana untuk mengubah suatu tatanan peradaban kepada kondisi yang lebih optimal sebagaimana yang dikehendaki HMI menuju keridhaan illahi.

Sudah 73 tahun tak terasa sejak berdirinya hingga saat ini, HMI terus-menerus memberikan kontribusi tanpa ada batasnya baik berupa materil, ataupun sumbangsih pemikiran untuk bangsa dan negara. Sehingga tidak terkejut bila banyak kader-kader berkualitas yang lahir dari rahim HMI. Ini membuktikan bahwa HMI belum tutup usia, tetapi akan selalu berkembang menjadi yang terbaik dan memberikan dedikasinya dalam konteks keislaman dan keindonesiaan demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Kemudian berkembangnya HMI menjadi seperti apa yang telah dicita-citakan tidak akan pernah dapat terwujud tanpa adanya dorongan dan dukungan dari semua unsur, baik unsur-unsur yang ada di tubuh HMI sendiri maupun unsur eksternal HMI.

Ghirah perjuangan yang ditanamkan oleh kakanda Lafran Pane untuk mewujudkan lima kualitas insan cita adalah hal yang harus tertanam di dalam setiap jiwa kader terlebih ketika dikomisariat, karena posisi komisariat adalah awal pembentukan kader sebagai insan pelopor, pembina, dan pembaharu kelak. Lalu kepengurusan dikomisariat sebagai pengarah kader-kader terutama kader baru untuk produktif pengetahuan ilmu sejak dari awal masuk di HMI. Sehingga pengetahuan ilmu keislaman dan keindonesiaan yang ditanamkan kepada seluruh kader sudah seharusnya menjadi pondasi kokoh bagi penerus tonggak estafet pengkaderan yang memegang amanah nantinya baik ketika berada di tingkatan Cabang, Badko, atau bahkan PB sekalipun.

Apabila ditelaah secara kasat mata pola atau siklus pengkaderan sebagai rutinitas yang dilakukan oleh setiap komisariat yang tersebar di nusantara. Komisariat adalah lumbung perkaderan, karena komisariatlah yang paling berperan terhadap perkaderan baik berupa siklus perkaderan itu sendiri maupun pembinaan terhadap kader-kader baru, tujuannya tidak lain bahwa komisariatlah yang paling urgen berperan terhadap pengembangan kader sejak dari awal, serta menambah mutu kualitas, sehingga terbentuknya kader-kader militan. Oleh karenanya tidak ada kader yang langsung menempati di ranah cabang ataupun PB, akan tetapi di komisariatlah lumbung-lumbung ilmu di capai sebanyak mungkin dengan cara berproses secara matang terlebih dulu, barulah beranjak ke institusi HMI yang lebih tinggi.

Saling membutuhkan adalah kepribadian manusia yang tidak bisa di bumi hanguskan, begitu juga dengan keberadaan komisariat yang berusaha menempatkan tupoksinya secara penuh terhadap pengkaderan yang maksimal, yang sudah seharusnya mendapatkan pengayoman yang komprehensif juga dari kanda ataupun yunda yang secara struktural berada di tingkatan atas di kepengurusan HMI baik daerah, wilayah maupun nasional. Proses bersinergi dari tingkatan yang tertinggi terhadap tingkatan yang dibawahnya adalah hal yang mutlak harus dilaksanakan secara sistematis, tanpa adanya back up dari tingkatan perkaderan yang lebih tinggi maka akan terjadi ketimpangan dalam roda organisasi tersebut. Ingatlah, bahwa organisasi HMI berfungsi sebagai organisasi perkaderan dan berperan sebagai organisasi perjuangan, termaktub dalam anggaran dasar bab IV pasal 8 dan 9. Itu semua tidak lain adalah upaya untuk terciptanya 5 kualitas insan cita HMI.

Proses kaderisasi harus bisa memberikan kontribusi produktif berupa pengetahuan, perubahan dan pengelolaan pengetahuannya. Kita ketahui bersama banyak ide-ide cerdas, kreatif dan solutif lahir dari proses kaderisasi komisariat. Serta komisariat sebagai pusat awal pengetahuan di HMI sudah semestinya mengakomodir kebutuhan intelektualitas kader di berbagai bidang. Diskusi-diskusi ringan yang disiplin dan terpola juga melatih setiap kemampuan kader agar bisa menjadi kader yang mampu berfikir secara luas, ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan. Kader yang dibina, di didik dan diarahkan pada pengelolaan pengetahuan, serta mereka dapat menekuninya sebagai dasar atau bekal pengetahuan dan keilmuannya. Hal tersebut berkaitan erat dengan keseriusan untuk merubah keadaan dan memaksimalkan komisariat sebagai lumbung tegaknya perkaderan, bukan hanya dari segi kuantitas tetapi dari segi kualitaslah yang paling penting.

Peran sentral ketua umum komisariat yang menjadi kontrol sekaligus motivator dan panutan bagi setiap pengurus serta kadernya adalah segelumit dari proses perubahan ke arah kemajuan, untuk mempersiapkan diri sebagai bibit-bobot generasi penerus bangsa dan negara dimasa mendatang. Spudah seharusnya kepengurusan struktural dikomisariat mengkader serta mewadahi secara maksimal minat bakat para kader untuk menjadikan insan akademis, pencipta dan pengabdi yang diharapkan oleh rakyat, bangsa  dan negara. Sehingga pikiran-pikiran cerdas, solutif, dan kreatif yang dibutuhkan oleh rakyat dapat terpenuhi dan terwujud sesuai yang dicita-citakan HMI.

Keberadaan komisariat adalah gairah perjuangan progresif yang seyogianya. Perjuangan yang sebenar-benarnya perjuangan, memperjuangkan kader, memperjuangkan keberadaan komisariat, dan eksistensi HMI itu sendiri. Beberapa kader di era milenial ini sangat rentan terhadap penyakit malas yang menjadikan kebodohan. Apalagi zaman yang tak tentu arah ini sangat mendukung sekali untuk bermalas-malasan, acuh tak acuh (apatis) bahkan fanatik terhadap sesuatu yang tidak jelas perjuangannya. Tetapi berangkat dari kegelisahan itulah mari kita sadarkan diri, lalu bahu-membahu seksama demi generasi yang tangguh dan peduli terhadap keadaan sekitar. Generasi yang mampu membawa perubahan progresif kepada kejayaan umat, dan kejayaan bangsa dan negara. Sudah waktunya bagi seluruh kader-kader komisarat di nusantara berdiri untuk bergegas, membangun bersatu dan melawan kedzaliman. Karena keringat yang tercecer adalah bukti semangat yang tak pernah usai akan padam. Yakin Usaha Sampai.

*Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Jejak Media Insan Cita menerima tulisan berupa berita, artikel, opini, cerpen, puisi dan karya tulis lainnya.

Kirimkan karya terbaik anda ke email: hmiinsancitaiainmadura@gmail.com.

Posting Komentar

0 Komentar