MENIMBANG PERNYATAAN CAK IMIN DAN JEJAK SEJARAH HMI DALAM LANSKAP POLITIK KONTEMPORER

 


Oleh: Helmy Maliki

Pernyataan Cak Imin, yang disampaikan dalam acara pengukuhan PB IKA PMII, tidak dapat dilepaskan dari konteks politik yang lebih luas. Sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan seorang politisi senior yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PMK), setiap ucapannya memiliki bobot dan implikasi politik. Meskipun disampaikan dalam forum internal PMII, sebuah organisasi yang secara historis memiliki kedekatan ideologis dan personal dengan PKB, pernyataan tersebut secara inheren mengandung dimensi eksternal.

Motivasi di balik pernyataan tersebut dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang

1. Konsolidasi Internal dan Pembakaran Semangat Kader PMII 

Dalam konteks forum internal, pernyataan tersebut mungkin dimaksudkan sebagai upaya retoris untuk membakar semangat kader PMII, memperkuat identitas organisasi, dan menegaskan klaim PMII sebagai representasi otentik gerakan mahasiswa yang berakar dari bawah. Dengan mengkontraskan PMII dengan HMI, Cak Imin mungkin berusaha menciptakan narasi eksklusif yang membedakan PMII dari organisasi lain, terutama yang dianggap memiliki basis dukungan atau afiliasi yang berbeda.

2. Dinamika Hubungan Antar-Organisasi Mahasiswa 

Pernyataan ini juga mencerminkan dinamika persaingan dan rivalitas historis antara PMII dan HMI. Meskipun keduanya adalah organisasi mahasiswa Islam, terdapat perbedaan dalam genealogi, afiliasi politik, dan pendekatan gerakan. HMI, sebagai organisasi yang lebih tua dan memiliki jangkauan yang luas, seringkali menjadi tolok ukur atau bahkan rival bagi organisasi lain. Sindiran Cak Imin dapat dilihat sebagai upaya untuk menegaskan superioritas naratif PMII dalam konteks "tumbuh dari bawah," sebuah klaim yang sering menjadi perebutan legitimasi di kalangan organisasi mahasiswa.

3. Manuver Politik dan Pencitraan 

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernyataan ini juga memiliki dimensi manuver politik. Dalam lanskap politik Indonesia yang sangat personalistik dan berbasis identitas, pernyataan yang menyentil atau mengkritik organisasi lain dapat menjadi cara untuk menarik perhatian, menggalang dukungan dari basis konstituen tertentu, atau bahkan menguji reaksi lawan politik. Dengan menyasar HMI, Cak Imin mungkin juga secara tidak langsung ingin memposisikan dirinya dan PMII sebagai representasi kekuatan "akar rumput" yang berbeda dari elit atau kelompok yang dianggap "dari atas".

4. Kurangnya Sensitivitas Sejarah atau Kesengajaan 

Kemungkinan lain adalah kurangnya sensitivitas terhadap sejarah HMI atau bahkan kesengajaan untuk memprovokasi. Mengingat rekam jejak HMI yang panjang dan kontribusinya yang tak terbantahkan dalam sejarah pergerakan mahasiswa dan pembangunan bangsa, pernyataan yang meremehkan akar historis HMI menunjukkan pemahaman yang dangkal atau upaya disinformasi yang disengaja. Apapun motivasinya, dampak dari pernyataan tersebut adalah memicu perdebatan publik dan berpotensi merenggangkan hubungan antar-organisasi mahasiswa yang seharusnya bersinergi untuk kepentingan bangsa. 

HMI: Melampaui Slogan 'Tumbuh dari Bawah' dengan Jejak Sejarah yang Kokoh

Pernyataan Cak Imin yang mengklaim HMI tidak "tumbuh dari bawah" adalah sebuah reduksi sejarah yang menyesatkan. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta, sebuah periode krusial dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pendirinya, Lafran Pane, bersama 13 mahasiswa lainnya, bukanlah representasi dari "balkon kekuasaan" atau elit yang mapan. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang berlandaskan semangat keislaman dan keindonesiaan, berjuang di tengah keterbatasan dan ancaman penjajahan. Kelahiran HMI adalah respons organik dari kebutuhan mahasiswa Muslim untuk berpartisipasi aktif dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun bangsa. 

Dalam sejarahnya, HMI tumbuh dan berkembang melalui proses kaderisasi yang masif dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, dari kampus-kampus besar hingga pesantren-pesantren di daerah terpencil. Jutaan kader HMI lahir dari keluarga sederhana, pedesaan, dan lingkungan yang jauh dari pusat kekuasaan. Mereka menggunakan HMI sebagai wadah untuk mengembangkan diri, memperoleh ilmu, dan mengasah kepemimpinan. Klaim bahwa HMI tidak "tumbuh dari bawah" mengabaikan fakta bahwa HMI telah menjadi "tangga" bagi banyak individu untuk "naik kelas" secara intelektual, sosial, dan profesional, bukan semata-mata "naik jabatan" melalui jalur instan. 

Kontribusi HMI terhadap bangsa Indonesia sangatlah multidimensional. Selain peran aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan Pancasila dari berbagai ancaman ideologi, HMI juga menjadi inkubator bagi lahirnya intelektual, birokrat, politisi, pengusaha, dan aktivis yang memiliki integritas dan komitmen terhadap pembangunan. Peran HMI dalam gerakan reformasi 1998 misalnya, adalah bukti nyata bagaimana organisasi ini mampu memobilisasi massa mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk menuntut perubahan fundamental. Ini adalah bukti bahwa HMI, dengan segala dinamikanya, memiliki akar yang kuat di masyarakat dan mampu menggerakkan perubahan dari bawah.

Implikasi Pernyataan Cak Imin terhadap Hubungan Antar-Organisasi dan Diskursus Nasional

Pernyataan seorang tokoh publik, apalagi seorang menteri, yang meremehkan sejarah dan kontribusi organisasi lain memiliki implikasi serius diantaranya,

1. Memicu Polarisasi dan Ketegangan Antar-Organisasi

Sindiran terhadap HMI berpotensi memperdalam jurang pemisah antara PMII dan HMI, serta organisasi mahasiswa lainnya. Padahal, dalam konteks pembangunan bangsa, sinergi dan kolaborasi antar-organisasi adalah kunci. Pernyataan semacam ini dapat mengikis semangat persaudaraan dan memicu rivalitas yang tidak produktif, mengalihkan energi dari isu-isu substantif ke perdebatan identitas.

2. Distorsi Sejarah dan Pembodohan Publik

Mengabaikan atau memutarbalikkan fakta sejarah suatu organisasi adalah bentuk pembodohan publik. HMI memiliki rekam jejak yang jelas dan terdokumentasi. Upaya untuk mereduksi sejarah HMI menjadi sekadar organisasi "dari atas" tidak hanya tidak akurat, tetapi juga merugikan upaya kolektif untuk memahami kompleksitas sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia.

3. Preseden Buruk dalam Berkomunikasi Politik

Sebagai pejabat publik, Cak Imin seharusnya menjadi teladan dalam berkomunikasi politik yang santun, beretika, dan berbasis fakta. Pernyataan yang tendensius dan meremehkan dapat menciptakan preseden buruk, mendorong politisi lain untuk menggunakan retorika serupa, dan pada akhirnya merusak kualitas diskursus publik.

4. Mengaburkan Isu Substantif

Perdebatan mengenai siapa yang "tumbuh dari bawah" atau "dari atas" seringkali mengaburkan isu-isu substantif yang seharusnya menjadi fokus pergerakan mahasiswa, seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, atau kualitas pendidikan. Energi yang terkuras untuk saling sindir dapat lebih baik dialokasikan untuk mencari solusi atas permasalahan bangsa. 


Pernyataan Cak Imin, meskipun mungkin dimaksudkan sebagai lelucon internal, telah membuka kembali luka lama dan memicu perdebatan yang tidak perlu. Penting bagi para pemimpin, baik di tingkat organisasi maupun pemerintahan, untuk senantiasa berhati-hati dalam berucap, mengingat dampak luas dari setiap kata yang terucap. 

"Sejarah adalah guru terbaik, dan menghargai jejak langkah para pendahulu adalah fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik".


#Penulis Merupakan Sekretaris Umum HMI Komisariat Insan Cita Sekaligus Mahasiswa UIN Madura

Posting Komentar

0 Komentar