Oleh : M. Rozien Abqoriy*
Sepanjang sejarah, Mahasiswa selalu mampu menjangkau di berbagai macam sektor, apalagi di sektor pemerintahan yang terbingkai dalam nuansa kebijakan politiknya. Namun sangat disayangkan ketika hanya terlalu banyak terpaku ataupun terfokus kepada hal-hal dan pengetahuan-pengetahuan hingga tindakan yang bernuansa politik. Seperti tentang perebutan kekuasaan ataupun jabatan yang berkedok pesta demokrasi.
Mungkin amat sangat sedikit di dalam ranah pengusaha ataupun akademisi, terkhusus lagi seperti di HMI. Organisasi perkaderan yang lebih merasa senang berada di ranah-ranah politik, sehingga yang dirasakan oleh setiap kader ataupun anggota itu seakan lebih mengarah dan cenderung fokus kepada hal-hal yang bernuansa politik saja.
Padahal sejatinya masih ada yang lebih fundamental dari hal itu, seperti penanaman nilai-nilai spiritual, nilai-nilai intelektual ataupun nilai-nilai kemanusiaan. Beberapa kategori itu juga akan memiliki dasar dari bermacam-macam ilmu pengetahuan. Kemudian, ilmu pengetahuan bisa juga didapatkan melalui membaca berdiskusi dan menulis.
Oleh sebab itu, tidak menjadi persoalan ketika kader memiliki pandangan dalam ranah politik, pendidikan, pengusaha dan lain sebagainya. Jika sudah melalui proses dasar-dasar yang tadi, yaitu di ranah ilmu pengetahuan serta pengalaman yang sudah cukup mumpuni. Sudah memiliki banyak bacaan-bacaan buku, sudah melalui banyak proses diskusi-diskusi panjang, perdebatan panjang, terkait banyaknya persoalan dan terkait banyaknya ilmu pengetahuan. Sebagaimana seorang mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang berpendidikan tinggi dan memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengaruh positif bagi masyarakat dan negara.
Sehingga di segala macam itu nantinya akan lebih menumbuhkan filterisasi tersendiri, entah itu ketika berada di ranah politik, pendidikan ataupun pengusaha. Akan lebih mampu untuk menyaring segala hal dan tidak akan mudah menelan secara mentah-mentah, maupun bertindak serta mengambil kebijakan yang tidak memiliki manfaat bagi lingkungannya.
Hari ini kita perlu untuk menjadikan dasar-dasar itu sebagai kebiasaan, sebagai refleksi everyday, every time, every where, yang tidak akan bisa untuk dikurang-kurangi. Atau kalau memang bisa, akan lebih sangat baik jika diperbanyak waktunya dalam hal itu. Sehingga pondasinya akan lebih kokoh, lebih tebal, untuk mengatasi segala macam persoalan.
Sangat amat kurang tepat, ketika hal-hal fundamental yang tadi itu lebih dikesampingkan ataupun dengan alasan bukan fashion atau bahkan bukan menjadi kesukaan. Padahal mau bergerak dimanapun itu, selalu tidak akan lepas dari yang namanya literasi, seperti membaca, menulis dan berdiskusi, terutama bertengkar fikiran (adu argumen).
Hal itu juga menjadi alasan paling fundamental dari tujuan HmI, tercatat dalam Buku Sejarah Perjuangan HMI milik Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul di Bab VI pada Tafsir Tujuan HMI, bahwa "Terbinanya insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt.".
Dengan rumusan tersebut, dijelaskan bahwa pada hakikatnya HmI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kuantitatif. Tetapi sebaliknya HmI adalah lembaga pengabdian dan pengembangan ide secara kualitatif harus mendidik, memimpin dan memimpin anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif (Red. Sejarah Perjuangan HmI, Tafsir Tujuan HmI).
#Penulis Merupakan Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Sekaligus Kader Gelandangan HmI


0 Komentar