Film Lafran Pane dan Refleksi Kader HmI


Syarifuddin untuk JMIC



Oleh: Imam Syarifuddin*

Setelah film "Lafran" tayang, setidaknya kader HmI khususnya, akan mengalami perubahan yang diilhami oleh film tersebut. Minimal, kader HmI akan menyadari betul tugas dan tanggung jawabnya sebagai kader di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HmI). Bukan hanya itu, bahwa kesadaran yang dimaksud dalam hal ini adalah kesadaran kolektif yang mampu menggerakkan kader kepada nilai-nilai praksis dari pemahaman yang sudah dimilikinya selama berkader. 

Pembuatan serta penayangan film "Lafran" pastinya tidak sekedar ingin mengenang tokoh, pemikiran, serta gerak juang daripada Lafran Pane. Tetapi juga merupakan upaya untuk membuat generasi setelahnya sadar hingga bahkan melanjutkan perjuangan Lafran Pane pencetus organisasi HmI. 

Pasang surutnya keadaan bangsa Indonesia bukan merupakan hal yang asing kita dengarkan, tetapi justru pasang surutnya tersebut menjadi persoalan yang tetap relevan dibicarakan, bahkan lebih mengarah kepada persoalan yang sangat krisis, baik dalam sistem pendidikan, budaya, politik, dan lain sebagainya.

Sehingga menjadi kewajiban kita semua untuk menjawab persoalan tersebut dengan bukti yang nyata. Khususnya, kader HmI yang benar-benar menjiwai bagaimana perjuangan sosok Lafran Pane di masa lalu. Seperti apa yang sudah disampaikan Lafran dalam film itu “lillahi ta’ala untuk Indonesia”.

Pernyataan tersebut juga ada di bagian NDP (Nilai-nilai Dasar Perjuangan) yang ditulis oleh Cak Nur, bahkan di Mukaddimah HmI kalimat tersebut ada. Bahwa perjuangan kader HmI semata-mata dilakukan hanya untuk Allah Subhanahu Wata’ala.

Mungkin, penayangan film Lafran Pane di seluruh Bioskop yang ada di Indonesia, menjadi salah satu moment bahwa HmI akan melaju dan melangkah lebih cepat lagi, dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Bahwa, Indonesia akan layak menjadi negara yang Maju. Hal itu sesuai dengan apa yang ada di dalam tujuan HmI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. 

Tujuan tersebut menjadi dasar paling awal untuk mengatakan Indonesia adalah negara Maju. Iya, bahwa negara-negara yang maju ditandai dengan kemajuan pendidikan, sejalan dengan tujuan HmI yang termaktub di awal.

Momentum ini adalah momentum yang bersejarah. Film HmI pertama kali dibuat dan bisa tayang saat ini. Hal itu merupakan sebuah refleksi bahkan satu langkah yang perlu kita apresiasi. Di tengah-tengah bangsa hingga bahkan HmI yang krisis saat ini dalam segala sektor. Film HmI hadir untuk menyadarkan kita semua agar kembali kepada jalan yang benar. Tentunya, jalan itu adalah jalan yang pernah ditempuh oleh Lafran Pane yang memilih dasar Islam sebagai gerak juangnya.

Setelah kita memberikan apresiasi, kita juga perlu membaca ulang dan lebih dalam lagi tentang bagaimana cara menjadi manusia yang nasionalis dan agamis. Setelah itu, kita akan lahir sebagai manusia yang memahami serta menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia. Kita akan lahir sebagai mujahid, memahami teologi tidak sekedar berpaku kepada persoalan teosentris tetapi juga antroposentris.

Refleksi kader HmI saat ini bisa dilakukan dengan menonton film Lafran, setelah itu menganalisis bagaimana dirinya di tubuh HmI. Agar penayangan Film  lebih luas dampaknya terhadap kesadaran kader, dan keberlangsungan generasi HmI yang tetap berjalan di jalan kebenaran, dengan dalih perjuangan sebagai seorang pemimpin di muka bumi ini.

#Penulis Merupakan Mahasiswa Prodi Ilmu Qur'an Tafsir Sekaligus Ketua Forum Kajian Insan Cita HmI Komisariat Insan Cita IAIN Madura


 

Posting Komentar

0 Komentar