Tanda Hati yang Bercahaya

Image: pujangga.islam.online.com

Oleh: Syuhud Syayadi Amir (Ketua Bidang PPPA HMI Komisariat Insan Cita 2020-2021)

JEJAKMEDIAINSANCITA - Tuhan adalah dzat yang maha Indah. Namun, makhluknya juga ingin menjadi indah walau sebenarnya masih diindahkan oleh yang maha Indah yaitu Allah. Tapi apakah manusia bisa menjadikan dirinya sendiri indah tanpa usaha? Bisa! Jika Allah berkehendak pasti bisa. Tapi sebagai manusia tidak cukup hanya selalu mengandalkan Allah dalam keinginan-keinginannya. Manusia harus berusaha ikhtiar dan ikhlas serta sabar dan tawakkal untuk memperoleh keindahan dirinya sendiri.

Samakin umur zaman itu mengurang dan dekat kepada kematiannya dan bertambah juga semakin dekat dengan ketiadaannya. Maka manusia kelihatannya semakin rapuh dan lupa kepada kehidupan yang kekal yaitu akhirat. Manusia semakin mempertontonkan kekalahan dirinya sendiri kepada dunia dan menunjukkan kefakiran hati dari kesucian dan ingatan dzikir kepada Allah. Akhirnya ucapan, tingkah laku dan perbuatan manusia yang mengatasnamakan Allah hanya tinggal tampaknya saja, tapi tidak mengenai esensinya dan tidak mendapatkan apa-apa dari peribadatannya bahkan kehancuran, kegelisahan, kejumudan fikiran dan kedzaliman semakin banyak dan merajalela.
Ada apa?

Faktor dari ketidakbermanfaatan suatu amal yang manusia anggap baik adalah perbuatan buruk yang selalu dijalankannya dan perbuatan baiknya tidak benar-benar dirasakan dan diaplikasikan dalam bentuk nyata hanya seperti olahraga yang tidak efektif dalam mengerjakannya. Shalat jalan maksiat terus juga berjalan beriringan sehingga shalatnya terkesan tidak dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Tidak merasa itu adalah perbuatan hati yang mulai kotor atau bahkan bukan mulai kotor melainkan sudah kotor lama panjangnya.

Menurut Imam Ghazali "Kotoran hati sama dengan titik hitam kotoran di kaca, jika awal-awal masih mudah dibersihkannya tapi jika sudah lama dan semakin besar, kotoran akan sulit dibersihkannya hingga bahkan membuat manusia buta terhadap kebenaran." Dari kalimat Ghazali tersebut, ada hal yang bisa ditarik benang merahnya yaitu betapa pentingnya menjaga hati. Imam Ghazali juga mengatakan "akal adalah panglima perangnya sedangkan hati adalah penasehat akal. Manusia disetir oleh kecenderungannya dan akal pasti tunduk kepada hati sebagai kecenderungannya." Kira-kira intinya seperti itu. Maka bereskan hatimu!

Syekh Abdul Qodir al-Jailani memberikan nasehatnya untuk membersihkan hati dengan dua cara. Itu disampaikan oleh Fahruddin Faiz dalam kajian Filsafatnya di Masjid Jenderal Soedirman. Kedua cara itu adalah mencari pengetahuan terkait cara memperbaiki hati dan yang kedua adalah menggunakan ilmu tersebut untuk menaklukkan egomu sendiri. Maka ada kaitannya dengan apa yang dikatakan Albert Camus "pahlawan sejati dilihat dari bagaimana Ia mampu melawan dirinya sendiri". Kemudian masih banyak lagi kata ilmuan-ilmuan yang memprioritaskan diri sendiri untuk dijaga. Akal bisa menangkap kebenaran, sedangkan hati tidak. Ada apa? Itu perlu dipertanyakan lagi kepada hati kita terdalam. Akal bisa memainkan yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah tapi hati tidak bisa bermain-main dengan kecenderungannya sebagai sebuah kebenaran.

Jika hati sudah bersih dari kotoran itu. Maka ada tanda-tanda dari hati yang bercahaya. Menurut Syekh Abdul Qodir Al-Jailani bisa memantulkan cahaya Ilahi, sedangkan kata Kh. Muhammad Bakhiet, tanda-tanda hati bercahaya itu ada tiga. Pertama, renggang terhadap negeri tipu daya. Kedua, kembali kepada kehidupan yang kekal yaitu akhirat. Ketiga, bersiap-siap untuk dipanggil oleh Allah dengan bekal yang akan dibawanya. Tiga hal tersebut ada ciri-ciri niat yang baik dalam setiap pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan syari'at Islam dan tidak lalai di dalam mengingat Allah subhanahu wa ta'ala.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, Aamiin.

*Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Jejak Media Insan Cita menerima tulisan berupa berita, artikel, opini, cerpen, puisi dan karya tulis lainnya.

Kirimkan karya terbaik anda ke email: hmiinsancitaiainmadura@gmail.com atau hubungi 085931097470 (WA).

Posting Komentar

0 Komentar