Pengakuan yang Tidak Tuntas

 

Image: Republika.co.id

Oleh: Syuhud Syayadi Amir (Ketua Bidang HMI Komisariat Insan Cita 2020-2021)

JEJAKMEDIAINSANCITA - Kita lihat dari latar belakang terlalu fanatiknya manusia terkait apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Kenapa itu bisa terjadi? Jawaban secara umum adalah faktor kebodohannya sebagai manusia yang sudah dibekali akal dan hati oleh Tuhan untuk bisa berfikir dan merasakan adanya kebenaran itu.

Yang sering menjadi doktrinan adalah pengakuan yang tidak tuntas kepada pemikiran yang tidak kritis. Seperti contoh ada salah satu manusia mengakui bahwa apa yang dilakukan dan diucapkannya adalah kebenaran lalu yang mendengarkannya tidak mencoba menanyakan pernyataan tersebut secara kritis sampai kepada batasan berfikir orang itu sampai meyakini bahwa apa yang dikatakannya memang sebuah kebenaran. Itulah pengakuan atau mengakui kebenaran secara tidak tuntas maka perlu kiranya untuk diuji lagi kebenaran tersebut. Jangan menjadi manusia yang buta terhadap realitas seperti apa yang dikatakan Soekarno, yaitu orang yang demikian adalah sontoloyo.

Dalam berorganisasi kita sering mendengar sebuah pengakuan tersebut dan tanpa kita kritisi kembali kebenarannya. Mengaku paling berjuang dalam organisasi, namun apa yang diperjuangkan? Bagaimana perjuangannya? Hasilnya seperti apa? Tujuannya apa dan seterusnya. Mengaku sebagai kader dari organisasi A atau B, sedangkan ketika ditanya tentang apa yang diakuinya masih amburadul entah kemana jawabannya.

Pantaskah mengakui tanpa kejelasan yang benar? Bahkan ada banyak oknom organisasi yang bangga mengakui dirinya sebagai kader di dalamnya, sedangkan kepada tujuan organiasinya masih belum jelas arahnya kemana. Akademiskah? Mengabdikah? Organisatoriskah? Bertanggung jawabkah? Atau hanya sok mengakui saja yang hanya bermodalkan simbol dan kefanatikan hanya kepada sebuah nama dan pejuang-pejuang lalu?

Dalam komunitas Arabet Pekkeran ben Ateh (APA) saya melayangkan sebuah tema yang berjudul Belajar Melihat Latar Belakang Perjuangan untuk dijadikan bahan diskusi sesama teman-teman di komunitas tersebut. Karena saya melihat mind set masyarakat khususnya pemuda dan mahasiswa mulai semakin jauh dari nilai-nilai kritis yang bisa mengantarnya kepada sebuah peradaban. Stagnan hanya dalam sebuah pendengaran dan pengalaman sekejap tanpa memperdalam pertanyaan lagi terkait semua permasalahan.

Kadang ada kata berjuang langsung mempercayai bahwa itu memang perjuangan yang benar tanpa mempertanyakan apa yang diperjuangkan dan untuk apa memperjuangkannya. Saya yakin dalam setiap tujuan organisasi islam semuanya adalah baik dan pasti atas nama Islam. Tapi yang menjadi persoalan dasar kenapa tidak belajar dalam-dalam untuk memperjelas suatu masalah yang hari ini sangat trending dan saling menjatuhkan antar umat Islam?

Ketika kita ingin mengakui kebenaran apapun, tuntaskan dengan pengetahuan! Jika muslim bekali pengetahuan itu dengan keyakinan yang kuat kepada kebenaran Islam. "Asyhadu an Laa Ilaha Illalah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah"

*Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi.

Jejak Media Insan Cita menerima tulisan berupa berita, artikel, opini, cerpen, puisi dan karya tulis lainnya.

Kirimkan karya terbaik anda ke email: hmiinsancitaiainmadura@gmail.com atau hubungi 085931097470 (WA).

Posting Komentar

0 Komentar