Prahara Munas Kohati: Nahkoda Baru, Kanan atau Kiri?

 

(Dok:Istimewa

Oleh : Inayah Wulandari*

JEJAKMEDIAINSANCITA - Musyawarah Nasional (Munas) Korps HMI-Wati (Kohati) merupakan forum pertanggung jawaban pengurus, proyeksi kerja, dan pemilihan serta penetapan formateur atau ketua umum Kohati dengan proses musyawarah atau suara terbanyak dan dua mide formateur (BAB IV Struktur Organisasi Pasal 11 Poin 2).

Munas Kohati ke XXV di Hotel Grand Kartika, Pontianak, telah selesai dilaksanakan (secara paksa) dengan menghasilkan dua formateur terpilih yakni Sri Meisista dan Reza Purnama yang dihasilkan dari ajang baku hantam.

Sebelumnya, Munaskoh yang berlangsung di Hotel Grand Kartika itu, dihadiri oleh 219 cabang, dan memunculkan 11 kandidat Ketua Umum Kohati PB HMI yang lolos verifikasi.

Munas yang berjalan alot memutuskan untuk melakukan voting dalam dua putaran. Di putaran pertama, Reza Purnama dan Dri Fia Yulanda masing-masing berhasil meraih 32 suara. Iik Nur Fatimah berhasil meraup 38 suara, sedangkan Sri Meisista berhasil meraup 52 suara. Inilah 4 kandidat yang berhasil melaju ke putaran kedua, namun dalam putaran kedua ini kandidat Sri Meisista dan Drifia Yolanda tidak hadir dalam forum, yang mana dalam putaran kedua ini reza purnama berhasil menang telak meraih 118 suara. 


Ini merupakan sejarah baru dalam munas kohati yang menghasilkan dualisme formateur ketua Kohati yang bisa dibilang cacat konstitusi, dimana menurut beberapa sumber. Kandidat Sri Meisista menang dalam putaran pertama, namun ia mengklaim bahwa dia lah yang menjadi formateur terpilih karena sudah menang di putaran pertama. Sedangkan di kubu lain, Reza Purnama menyatakan bahwa dia lah yang memenangkan kontestasi ini karena ia menang telak dalam putaran kedua, sehingga keduanya menyatakan diri sebagai formateur terpilih. 

Namun terdapat beberapa fakta yang terungkap, diantaranya kandidat Reza Purnama terbukti melakukan pemalsuan data yang menyebutkan bahwa ia mengikuti training LK 2 di Bengkulu tahun 2019. Sedangkan faktanya ia mengikuti training LK2 di Bengkulu tahun 2021. Disisi lain kandidat Sri Meisista mengklaim bahwa ia pemenang dalam pemilihan ini dikarenakan ia sudah menang dalam putaran pertama dan tidak perlu ada putaran kedua.

Dalam dongeng ini, tidak ada satupun kandidat yang mau mengalah dan tetap kekeh dengan ego masing-masing. Lalu bagaimana pemimpin yang seperti ini akan membina dan mendidik muslimah sebagaimana pada umumnya dan kohati pada khususnya, sesuai yang telah diamanatkan dalam BAB IV Pasal 8 Pedoman Dasar Kohati? 

Musyawarah Nasional yang seharusnya dijadikan sebagai momentum silaturahmi kader Kohati dari berbagai cabang, justru dijadikan sebagai alat mencapai tujuan. Entah gila kekuasaan, atau bahkan tamak akan jabatan. Seakan pertemuan ini merupakan momentum untuk menunjukkan kekuatan dan bekingan senior yang kerap kali dijadikan sebagai alat balas dendam. Inikah kualitas kohati yang selama ini dibangga-banggakan? Alih-alih mewujudkan tujuan Kohati sebagai muslimah berkualitas insan cita, malah menunjukkan kualitas yang sebaliknya. Inilah waktu dimana kata "Makarimal Akhlaq" Benar-benar ditinggalkan oleh generasi muda yang digadang-gadang akan membawa perubahan bagi masa depan, betul membawa perubahan, tapi perubahan seperti apa yang dibawa?

Kader HmI identik dengan ide dan gagasan yang cemerlang, namun apa yang saat ini terjadi? Alih-alih datang ke Munas membawa bekal pengetahuan dan ilmu, justru malah membawa dendam dan misi pribadi.

Menurut Asma Zakaria, peserta utusan penuh dari Cabang Bacan, Badko Malmalut, yang dikutip dari terkenal.co.id, "kudeta secara ilegal dilakukan dengan memaksakan mengganti pimpinan sidang. Yakni kepada personal pimpinan sidang yang selama mulai Munas, justru sudah tak memiliki integritas karena sering lari dari forum dan melarikan palu sidang. Tapi tidak ada kejahatan yang sempurna kami berkoordinasi dengan Kahmi Nasional dan Forhati Nasional, demi menjaga kehormatan institusi”.

Dalam hal ini, upaya kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kandidat dapat menghadirkan berbagai mudharot di kalangan kader HmI. Tidak hanya itu, hal ini juga akan menimbulkan terkikisnya kualitas kepercayaan kader terhadap pemimpinnya. Maka dari itu perlu adanya kesadaran dari setiap kader dalam menuntaskan tanggung jawab dalam mengembalikan hittoh HmI.

Nurcholish Madjid menyatakan, "Modernisasi berarti berpikir dan bekerja menurut fitrah dan sunnatullah yang haq”. Maka dari itu sebagai kader militan yang memiliki tanggung jawab dalam membina dan mendidik generasi ummat dan bangsa, sudah seharusnya menerapkan sistem kerja yang rasional, bijak, dan bajik guna mencapai tujuan HmI sesuai fitrah penciptaannya.


#Penulis Merupakan Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam Serta Pengurus Bidang Eksternal Kohati Komisariat Insan Cita IAIN Madura

Posting Komentar

0 Komentar