![]() |
| Oleh: Suhud Sayyidi Amir* |
Jika bukan untuk Allah, untuk siapa lagi? Bukankah akal kita dari Allah, tangan kita yang bisa menulis juga dari Allah, kekuatan kita dari Allah, bahkan segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah. Mungkin kita masih memiliki alasan dalam menulis, salah satunya demi kepentingan manusia, demi kepentingan diri sendiri dan lain sebagainya, tetapi semua yang kita lakukan atas nama siapa kalau bukan atas nama Allah? Kita diciptakan hanya untuk menyembah (mengabdi) kepada Allah. Selebihnya, apabila kita mendapatkan kebahagiaan dari apa yang kita lakukan, maka itulah kenikmatan yang diberikan Allah atas jerih payahnya usaha kita dalam menjalani kehidupan.
Selain menulis, apa lagi?
Banyak yang harus dilakukan oleh manusia dalam kehidupan ini. Peran manusia adalah berantusias di dalam menjalankan perintah Allah di muka bumi ini. Khoirunnas anfa'uhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Kuntum khoiro ummah, ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna 'anil fahsyai wal Munkar, bahwa sebaik-baik manusia adalah ia yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada perbuatan Munkar. Dan banyak lagi yang lainnya.
Lantas, jika bukan untuk Allah, untuk siapa lagi???
Mungkin untuk keluarga, untuk orang lain, dan untuk dirinya sendiri, tetapi semua itu bukan lantas menghilangkan kekuasaan Tuhan sebagai pengatur segalanya. Tetapi terkadang, manusia lupa akan dirinya dan Tuhan yang telah menciptakan nya. Mereka merasa bahwa apa yang dilakukan adalah murni dari perjuangan dirinya tanpa melibatkan Tuhan. Bahkan merebut banyak prestasi, banyak reputasi, banyak eksistensi terbaik bukan untuk semakin mendekat kepada Tuhan dengan cara menjadikan segala apa yang didapatkan nya sebagai alat untuk memperkenalkan agama Tuhan dan memberikan contoh yang baik kepada manusia lainnya, tetapi semakin jauh dari Tuhan. Kehidupannya yang mewah, berprestasi, dan mendapatkan segala apa yang dimimpikannya membuat dirinya lupa akan tanggung jawab sebagai manusia di muka bumi.
Tamak menjadi salah satu faktor kehancuran batin dan akal sehat manusia. Sebab, rasa syukur semakin memudar karena selalu merasa kurang atas apa yang sudah dimilikinya sebagai sebuah kenikmatan dari Allah. Akhirnya, kenikmatan yang dimilikinya menjadi sesuatu yang dapat membuatnya kufur nikmat sehingga berubah menjadi malapetaka atas dirinya sendiri, tetapi samar-samar setan telah merasuk dalam jiwanya dengan menganggap bahwa apa yang didapatkan nya terkesan masih sedikit dan lupa untuk bersyukur. Lain syakartum laazidannakum walain kafartum Inna adzabii lasyadidd.
Sedikit saya ingin menyinggung persoalan kenikmatan manusia berupa jabatan. Iya, bahwa jabatan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan Tuhan kepada manusia, karena dengan jabatan, manusia akan lebih mudah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, tetapi terkadang jabatan itulah yang menjadi salah satu sebab manusia semakin buruk di hadapan Allah. Kenapa? Karena tidak menggunakan jabatannya untuk Allah, tetapi untuk memperkenalkan dirinya kepada manusia lain bahwa dirinya luar biasa dan melupakan Allah. Bahkan menjadikan jabatannya sebagai alat untuk memuaskan dirinya sendiri dan lupa kepada apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pemegang kekuasaan (jabatan). Mungkin manusia seperti itu lupa kepada hadis Rasulullah bahwa kullukum ra'in wakullukum mas'ulun 'an ra'iyatihi, bahwa setiap diri kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban kelak atas kepemimpinan nya. Apalagi pemimpin masyarakat (memiliki jabatan).
Kemudian, banyak lagi tentang apa yang menempel di manusia, baik itu title, kepemilikan dan lain sebagainya yang dapat menjadikan manusia semakin baik atau bahkan bisa menjadikan manusia lebih buruk dari binatang. Tetapi yang bisa mengukur semua itu adalah dirinya sendiri sebagai manusia yang dibekali akal dan hati supaya berpikir dan merasakan segala sesuatu yang telah diperbuatnya. Apabila manusia selalu sadar dan menginsafi perbuatan salahnya maka Allah akan mengampuni nya, tetapi sebaliknya, apabila manusia sudah dikuasasi oleh kesombongan diri, merasa bahwa segala apa yang ada di dirinya tidak pernah menjadi beban buruk apabila tidak diniatkan karena Allah, maka tunggulah zamannya, bahwa manusia itu akan menangis bersama dengan amalnya.
Inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin. Innamal a'malu binnayati. Man dalla 'ala khairin falahu mislu ajri fa'ilihi. Banyak hadis, ayat dan dalil-dalil lain tentang bagaimana menjadi manusia sejati. Tetapi sedikit ini kiranya cukup untuk membuat diri bermuhasabah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah (taqarruban ilallah). Segala sesuatu yang dilakukan manusia akan dilihat oleh Allah, bahkan suara hatinya sekalipun. Maka niatkan semua karena Allah.
Kata Imam Ibnu 'Athaillah dalam kitab al-Hikam, "bahwa Allah selalu ingin memperkenalkan Hamba yang dicintaiNya sekalipun ia jauh dari jangkauan manusia lainnya." Tetapi semua itu tidak akan terjadi tanpa kecintaan yang besar kepada Allah. Tetapi ingat, bahwa manusia akan celaka kecuali orang-orang yang berilmu, orang-orang berilmu juga akan celaka kecuali orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, dan terakhir bahwa orang yang mengamalkan ilmunya akan celaka kecuali orang-orang yang ikhlas dalam mengamalkannya. Kuncinya adalah ikhlas! Tugas manusia hanya berikhtiar, berjuang dan berusaha, selebihnya menjadi takdir Allah, dan takdir Allah selalu yang terbaik buat manusia.
* Penulis Merupakan PTKP Komisariat Insan Cita IAIN Madura Periode 2021-2022


0 Komentar