JEJAKMEDIAINSANCITA - Dalam upaya merealisasikan tanggung jawab sebagai kader HMI, saya ingin menuliskan gambaran tentang lingkungan HMI yang ada di lingkungan saya sendiri, yaitu Pamekasan.
Di Pamekasan, HMI terkesan tahapan demi tahapan akan mengalami krisis intelektual. Krisis ini bisa dibuktikan dari kader-kader HMI yang masih aktif sudah mulai menghapus tradisi intelektual itu sendiri.
Penghapusan budaya intelektual yang baik disengaja atau tidak tersebut akan menjadikan HMI di Pamekasan kehilangan ruhnya sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.
44 Indikator kemunduran HMI yang ditulis Agus Salim Sitompul bisa dijadikan salah satu acuan daripada kemunduran HMI di Kabupaten Pamekasan.
Sebagai salah satu bukti vitalnya adalah Cabang HMI itu sendiri. Bahwa sudah banyak konstitusi yang dilanggar baik dalam proses kaderisasi maupun proses untuk mendapatkan kekuasaan di HMI.
Tetapi, hal itu seakan sudah menjadi lumrah dengan tidak adanya kritik atau bahkan solusi daripada kader-kader HMI khususnya yang masih aktif. Di komisariat misalnya, mereka tidak mengkaji betul persoalan konstitusinya, sehingga hanya fokus kepada persoalan-persoalan yang mungkin tidak terlalu penting.
Sesuai dengan tujuan HMI, yaitu Terbinanya insan Akademis, pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT, maka kader HMI harus betul-betul mengkaji tujuan itu dan dibuktikannya sebagai bentuk nyata.
Terbinanya insan yang akademis, tentunya hal ini dijadikan sebagai acuan untuk menciptakan kader-kader HMI yang intelektual. Tafsir tujuan HmI bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk memompa harapan ini bisa terwujud dalam dunia nyata.
Kemudian pencipta. Kader-kader HMI diharapkan untuk mempu menciptakan segala sesuatu yang dapat menjadikan bangsa ini sampai kepada puncak peradaban yang baik, ini tertuang di tujuan yang ke lima, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Pengabdi ini jelas untuk mengabdikan diri semata-mata ke hadirat Allah SWT. Bahwa segala bentuk usaha yang dilakukan kader-kader HMI itu tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Selain asas HmI merupakan Islam, HmI juga mengharapkan kader-kadernya menjadi manusia insan Kamil.
Arah menuju krisis itu akan semakin jelas apabila kader-kader HMI lebih-lebih pengurus Cabang itu sendiri tidak cepat-cepat berbenah dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita HMI.
Tidak ada kajian yang berlanjut mengenai proses pendalaman materi di HMI. Mungkin bisa dikatakan hanya seperti duduk sebentar lalu pergi ke tempat duduk yang berbeda.
Hal ini juga bisa dibuktikan pada saat HMI waktu lalu mengadakan demonstrasi-demontrasi besar tetapi tidak menemukan ujung tombak keberhasilan. Bahkan, ada sebagian kader HMI yang saya temui mengaku tidak menemukan kejelasan dari setiap apa yang dilakukan tersebut.
Budaya literasi itu harus ditumbuhkan kembali. Kajian yang kongkrit dan bisa dipertanggungjawabkan serta kajian-kajian serius yang tetap berlanjut sebagai usaha pembaharuan Islam seperti apa yang dicita-citakan pendahulu-pendahulu HMI.
HmI di Pamekasan terkesan hanya fokus dalam dunia politik. Sekalipun ada sekelompok akademisi yang mengaku intelektual, kajiannya cukup hanya di meja-meja kopi. Tidak ada hasil karya dipublikasikan sebagai jawaban atau solusi dari permasalahan yang ada.
Ada banyak hal yang terjadi khususnya di lingkup kabupaten. Tetapi saya kemaren hanya menemukan satu tulisan yang menarik dan itupun dari senior lama yang aktif menjadi advokat, yaitu Kanda Sulaisi. Tulisan tersebut menanggapi kejadian di salah satu Masjid di Pamekasan.
Mungkin saya masih belum bisa mengatakan HMI di Pamekasan sudah mengalami kemunduran, karena melihat kader-kader masih banyak yang aktif. Sekalipun sudah ada yang jelas kemundurannya apabila dikaitkan dengan tulisan-tulisan dan gagasan HMI masa lalu.
Dalam hal ini saya masih memiliki harapan besar terhadap keemasan HmI di Kabupaten Pamekasan ini. HMI yang tidak sekedar hadir hanya membawa title ke-HMI-annya semata, tetapi HMI yang hadir sebagai jawaban atau solusi terbaik khususnya bagi masyarakat kabupaten. Seperti apa yang disampaikan Jenderal Sudirman bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia.
Sebagai salah satu upaya mewujudkan cita-cita HMI adalah kesemangatan dan kesadaran bersama dalam berorganisasi. Kesadaran ini adalah kesadaran kolektif dari setiap individu kader yang ada. Kesadaran yang penuh rasa tanggung jawab serta kesadaran yang berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam kenyataan.
Mewujudkan kader HMI yang intelektual tidak hanya dicukupkan mendapatkan ijazah atau mengikuti jenjang perkaderan di HMI, tetapi juga harus mampu tampil dengan keberaniannya membuktikan bahwa inilah saya sebagai kader HMI. Inilah saya yang memiliki gagasan, memiliki alasan dalam setiap kerja yang dilakukannya, tentunya alasan tersebut didasarkan pada kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan aturan yang sudah ada.
Sebagai salah satu catatan terkahir untuk kader-kader HMI di Pamekasan adalah bahwa lingkungan kita sebagai kader HMI masih sangat jauh dari kemajuan. Ini tugas kader HMI sebagai pengemban amanah HMI sekaligus sebagai pengemban amanah kampus.
Segala bentuk ketidakadilan, kemunduran berpikir, dll. menjadi tanggung jawab kader HMI untuk menyelesaikannya. Sedangkan penyelesaian ini kader HMI mungkin tidak perlu diajari lagi. Karena mengingat banyaknya kader HMI di Pamekasan yang lulus LK II bahkan ada sebagian yang sudah lulus LK 3.
Kader HMI dikenal sebagai kader intelektual, kader yang memiliki kepekaan yang besar kepada keadaan bangsanya. Anggapan ini harus terbukti supaya tidak hanya menjadi kata-kata yang mati dan tak berguna. Kader HMI juga dikenal sebagai pengatur strategi, politik, dan taktik, maka seharusnya hal itu dibuktikan untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada.
Semoga tulisan ini tidak menghadirkan kemarahan kader HMI, tetapi menumbuhkan kesadaran khususnya bagi saya sendiri sebagai penulis yang sadar masih memiliki banyak kekurangan dalam menulis. Kritik sangat perlu disampaikan lebih-lebih dalam bentuk tulisan.
Yakin, Usaha, Sampai! (YAKUSA).
*Penulis Merupakan Anggota MPKPK Komisariat Insan Cita IAIN Madura.


0 Komentar